Kamis, 31 Maret 2011

Rongsokan Jadi Gamelan





Gung....gung...gung...Suara itu nyaring terdengar di antara dentingan suara logam yang saling beradu. Suara datang dari salah satu rumah di sentra kerajinan logam di Desa Pesayangan, Kecamatan Purbalingga Kota, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng). Setelah didekati, ternyata salah seorang pekerja sedang mencoba suara gamelan jenis gong yang baru saja diselesaikan pengerjaannya. Terlihat ada tiga gong yang sudah digantung dengan seutas kawat besi di salah satu sudut ruangan.

“Yang ini telah selesai. Makanya dicoba, apakah suaranya bagus atau tidak. Setelah dirasa cukup baik suaranya, maka langsung dibungkus dengan kardus dan siap dikirimkan,”kata salah seorang pekerja, Tunut, 38.

Tak berapa lama, ia kemudian ganti mengerjakan yang lainnya. Tunut yang ditemani oleh Prayit, 38, kembali meneruskan pekerjaannya memotong logam yang berasal dari drum-drum bekas. Setelah dipotong, logam itu ditempelkan sampai membentuk sebuah alat musik gamelan. Alat yang digunakan sederhana, hanya sebuah palu dan pengelas.

Pemilik usaha tersebut, Marliah, 49, mengungkapkan bahwa gamelan yang dibuat dari Pesayangan pada umumnya berbahan baku logam bekas. Biasanya, bahan baku adalah drum bekas tempat minyak tanah atau bensin yang sudah tidak terpakai. “Jadi memang boleh dikatakan sebagai barang rongsokan atau limbah, karena sudah tidak digunakan. Drum-drum tersebut kemudian dipotong-potong untuk kemudian dibuat alat musik tradisional Jawa, yakni gamelan,”ujarnya.

Yang dibuat oleh Marliah bersama pekerjanya di antaranya adalah jenis gong, bonang, demung, saron, kenong dan lainnya. Pokoknya seluruh jenis alat musik gamelan yang terbuat dari logam. “Kalau jenisnya tergantung pesananannya. Misalnya, untuk Jawa Barat tentu beda dengan Jateng atau Bali,”katanya.

Biasanya, jika pesanan dari Bandung, alat musik gamelan untuk mengiringi Jaipongan, sehingga berbeda dengan pesanan dari Yogyakarta atau Bali yang disesuiakan dengan gamelan khas di wilayah tersebut. “Kalau saya, biasanya pesanan berasal dari Bandung, Yogyakarta dan Bali. Ada yang membeli satu set, tetapi ada yang pesan per satuan. Misalnya gong saja atau bonang. Semuanya kami layani tanpa kecuali,”jelas Marliah yang mulai membuka usahanya sejak tahun 1980-an silam.

Perjalanan para perajin Pesayangan untuk membuat kerajinan gamelan dimulai sejak lebih dari 50 tahun silam. Salah satu perajin gaamelan yang cukup tua di Pesayangan, Achmad Markus yang kini berusia sekitar 70 tahun menuturkan bahwa dirinya mulai menekuni usaha gamelan sejak tahun 1960. Ia meneruskan usaha ayahnya. “kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari 50 tahun para perajin di Pesayangan menekuni pembuatan gamelan,”ujar Achmad sambil terus mengayunkan palunya meratakan logam.

Lelaki yang saban kerja tidak mengenakan baju tersebut mengatakan bahwa Pesayangan memang lebih khusus membuat gamelan dari drum-drum bekas, bukan dari kuningan. “Di sini masih ada sekitar lima hingga tujuh perajin yang menekuni pembuatan gamelan. Tetapi kami tidak bersaing, sebab sudah memiliki pangsa pasar masing-masing. Para perajin mempunyai langganan yang pasti. Kalau saya, biasanya pesanan datang dari luar Jawa,”katanya.

Seperti sudah menjadi kesepakatan para perajin, satu set gamelan biasanya dijual dengan harga Rp25 juta. Biasanya terdiri dari seluruh alat musik gamelan yang berasal dari logam, mulai bonang, gong, kenong, demung, saron dan lainnya. Tetapi kalau per satuan, harganya beragam. Ada yang harganya Rp350 ribu hingga Rp2 juta. Drum bekas yang digunakan harganya Rp80 ribu. Untuk membuat satu set gamelan dibutuhkan tidak kurang dari 79 drum dengan waktu pengerjaan antara 1,5 – 2 bulan. Kalau ada yang pesan dari kuningan, para perajin juga siap membuatkan, tetapi harganya jauh lebih tinggi, karena satu set gamelan harganya mencapai Rp150 juta.

Menurut Achmad, pekerjaan yang ditekuninya sejak puluhan tahun silam itu masih tetap bertahan karena memang mendatangkan keuntungan. “Pendapatan sebulan tidak pasti. Tergantung sama pesanan. Kalau memang banyak pesanan, pendapatan bisa mencapai Rp5 juta, tetapi ada kalanya memperoleh Rp2 juta. Ya, namanya saja usaha, kadang ramai, kadang sepi,”katanya.

Namun, kalau dibandingkan dengan sebelum tahun 1965 silam, usaha pembuatan gamelan memang lebih redup. Sebab, sebelum tahun 1965, usaha pembuatan gamelan benar-benar mengalami masa jayanya. “Meski begitu, kami tetap bertahan karena usaha ini tetap mendatangkan pendapatan,”ujar Achmad.

Di Desa Pesayangan yang merupakan sentra perajin logam, kini memang tinggal menyisakan sekitar tujuh perajin. Dulunya, tahun 1960 silam perajin gamelan jumlahnya mencapai puluhan. Tetapi dengan berjalannya waktu, satu per satu perajin bertumbangan akibat pesanan yang semakin langka. Namun, bagi Marliah, Achmad dan perajin lainnya bertahan menjadi sebuah jalan, jumlah pesanan gamelan semakin terbatas. Mereka bertahan karena dari situlah sumber pendapatan mereka. (liliek dharmawan)

Tidak ada komentar: